GUNUNG RINJANI 3726 MDPL LOMBOK, NTB

12 – 23 AGUSTUS 2008

ANGGOTA TIM EKSPEDISI

  1. DEVI RAHARDIONO
  2. EL KHAIDIR NATAKUSUMAH
  3. ADITYA IRAWAN
  4. DICKY NAUFAL AHMAD
  5. NUZUL ADNAN
  6. RASMIRA

Selasa, 12 Agustus 2008 Pukul 14.00 WIB

Pelepasan oleh PR3 Unpad di Dipati Ukur Bandung dihadiri oleh Pembina UKM Pramuka, M. Ali Mauluddin, S.Pt dan seluruh anggota UKM Pramuka Unpad

Rabu, 13 Agustus 2008 Pukul 16.00 Wib – Kamis 14 Agustus 2008 Pukul 10.00 WITA

Perjalanan dari Bandung menuju Surabaya menggunakan Bis

Kamis, 14 Agustus 2008 Pukul 15.00 WITA – Jumat 15 Agustus 2008 pukul 13.00 WITA

Perjalanan dari Surabaya – Bali – Lombok menggunakan Bis dan Kapal Ferry

Jumat 15 Agustus 2008 Pukul 15.00 WITA

Kami sampai di Kampus universitas Mataram (Unram) langsung ke sekretariat Pramuka Unram dan beristirahat. Rencana untuk memulai pendakian hari ini tertunda berhubung bis yang menuju Sembalun sudah tidak ada lagi. Terpaksa menginap dan beristirahat di Racana Unram sampai besok Pagi.

Sabtu 16 Agustus 2008 Pukul 05.00 WITA

Perjalanan ke Puncak Rinjani via Sembalun

Perjalanan Pendakian dimulai. Jalan masuk yang diambil adalah pintu gerbang sembalun. Dari Mataram menuju Sembalun menggunakan kendaraan khas daerah Lombok.

Selama perjalanan terbentang pantai Lombok yang indah dan pegunungan yang menanjak dengan sabana dan monyet-monyet yang berkeliaran di anatara ilalng dan pohon-pohon.

Kami sampai di Sembalun pada pukul 10.00 WITA langsung menuju kantor Rinjani information Center untuk mengurus izin masuk dan mendapatkan tiket masuk ke Taman Nasional gunung Rinjani

Setelah beristirahat dan makan, pukul 11.00 pendakian pun dimulai. Jalur Sembalun merupakan jalur yang ramai dilalui oleh pengunjung terutama oleh para penggemar treking. Rute yang akan kami lalui adalah gerbang sembalun -pelawangan sembalun- puncak rinjani. Jalur ini sangat dramatis dan mengesankan. Rute yang kami lalui adalah padang savana dan punggung gunung yang berliku-liku dengan jurang di sebelah kiri dan kanan jalur. Padang savana sungguh merupakan ujian pertama yang cukup berar bagi kami. Pasang sabana hanyalah hamparan ilalang setinggi 1m kalau boleh dikatakan tanpa ada pohon, sehingga teriknya matahari di pulau Lombok ini dapat langsung kami rasakan. Untuk pertama kali kami membutuhkan usaha sangat keras untuk menyesuaikan diri dalam panas yang sangat terik, apalagi medan yang kami lalui ini sangat berbeda dengan medan selama kami latihan di Jawa Barat yang masih ditutupi oleh hutan homogen dan iklim yang boleh dikatakan sejuk. Tetapi segala sesuatu harus dipelajari dan diri ini harus menyesuaikan diri dengan alam. Dan alhamdulilah akhirnya kami dapat menyesuaikan diri dengan iklim dan alam yang berbeda ini. Hingga akhirnya kami dpat melewati pos 1, pos II yang masih ada sumber air, dan Pos III yang semakin kencang saja anginnya. Pukul 20.00 WITA kami memutuskan untuk beristirahat di sebuah bukit 2 jam perjalanan sebelum Plawangan. Sebenarnya apabila dipaksakan kami bisa beristirahat di Plawangan yang dekat dengan sumber air, tetapi kondisi masing-msing tim sudah tidak memungkinkan lagi untuk melanjutkan perjalanan. Capek dan lapar bergabung menjadi satu. Beristirahatlah kami di bukit itu, memasak, memasang tenda dan beristirahat sampai pagi. Ekspedisi ini bukan lomba tetapi piknik yang harus dinikmati setiap langkahnya agar semakin banyak makna yang didapat terutama bagaimana caranya semakin banyak kami bersyukur atas nikmat yang diberikanNya.

Read the rest of this entry »